Sebuah Fenomena "Flexing"


    Sistem teknologi informasi semakin berkembang, pengguna sistem teknologi informasi di dunia sekarang ini bertumbuh sangat pesat sehingga grafik pengguna sistem teknologi bertambah disetiap harinya. Sosial media adalah salah satu produk dari canggihnya teknologi dewasa ini dan menjadi sistem komunikasi serta informasi terpopuler. Para penggunanya bisa sangat mudah berpartisipasi, berbagi informasi dan menciptakan forum di dunia virtual. Dengan demikian sosial media menjadi salah satu kebutuhan yang penting saat ini bagi setiap orang, sosial media yang masih eksis digunakan yaitu seperti instagram, tiktok, twitter, facebook, whatsap dan platform digital seperti youtube channel. Akhir-akhir ini ada fenomena menarik di dunia social media, fenomena ini bahkan menjadi sorotan banyak pihak. Dimulai dari dirjen pajak, akademisi dan praktisi bisnis, influencer, bahkan menjadi bahasan yang menarik diranah psikologi. Fenomena tersebut adalah “Flexing”, Flexing adalah istilah yang digunakan untuk seseorang yang sering pamer kekayaan, apabila sebelumnya pamer dianggap tabu, dilarang, dan tidak pantas tapi kini jadi hal yang umum. Melansir kutipan dari Kompas.com, populasi crazy rich di Indonesia pada tahun 2020 tercatat sebanyak 1.390 orang. Jumlah ini meningkat sebesar 1% selama pandemi tahun 2021 menjadi sebanyak 1.403 orang. Jika saja setengah dari mereka secara rutin memamerkan kekayaan atau venue-venue tempat liburan di medsos, maka dalam sehari saja sudah terdapat 700 postingan, seminggu 4.900 postingan, dan sebulan 21.000 postingan. Beberapa hal yang sering dipamerkan seperti saldo ATM, uang yang bertumpuk, pakaian mahal, jet pribadi, liburan ke luar negeri, tas mewah, mobil mewah, nongkrong di restoran atau cafe mahal, hp iphone dan sederet barang mewah lainnya, bahkan tidak jarang hubungan (relationship goals) juga menjadi bahan untuk flexing di sosial media. Maka belakangan muncul istilah, sultan dan crazy rich. 

    Flexing atau pamer dilakukan untuk mencapai beragam tujuan, di antaranya menunjukan status dan posisi sosial, menciptakan kesan bagi orang lain, dan menunjukan kemampuan atau dengan kata lain menunjukkan eksistensi diri di media sosial agar lebih dilihat dan dianggap oleh orang lain. Menurut pakar bisnis Profesor Rhenald Kasali dalam channel youtube pribadinya, mengatakan bahwa pada tahun 1899, Thorstein Veblen mengangkat tema tersebut dalam salah satu bukunya yang berjudul “The Theory of the Leisure Class: An Economic Study in the Evolution of Institutions”, ahli ekonomi dan sosiolog ini mengungkapkan adanya “konsumsi yang mencolok” untuk menggambarkan bagaimana benda atau barang dipamerkan untuk menunjukkan status dan posisi sosial. Flexing banyak digunakan sebagai strategi pemasaran awalnya, namun dengan bergesernya kepentingan pribadi akhirnya flexing menjadi sebuah ajang pamer kekayaan dimedia sosial yang sebenarnya sesuatu yang ditunjukkan seringnya bertolak belakang dengan fakta yang ada. Perilaku flexing sebenarnya berkebalikan dari orang kaya sungguhan, hal ini juga disampaikan di kanal youtube Prof Rhenald Kasali. Ia juga menambahkan bahwa orang kaya yang sesungguhnya tidak ingin menjadi pusat perhatian, "poverty screams, but wealth whispers" yang artinya kemiskinan menjerit, tetapi kekayaan berbisik. Beberapa perilaku yang menunjukkan flexing bisa dilihat di youtube Sisca Kohl, pemilik brand kecantikan MS Glow, para selebgram atau bahkan instagram stories teman kita sendiri. Apabila ditinjau dari ranah psikologi khususnya kesehatan mental, fenomena flexing yang sedang marak ini bisa lebih dipahami dengan menonton film di Netflix yang berjudul “The Tinder Swindler” dimana dalam film ini diceritakan penipuan yang dilakukan oleh seorang laki-laki disebuah negara dengan cara flexing. Lalu, muncul sebuah pertanyaan, sebenarnya boleh atau tidak melakukan flexing?. 

    Pamer adalah naluri manusiawi dari setiap individu karena menurut Abraham Maslow salah satu kebutuhan dasar manusia apabila kita diakui dan diterima. Flexing menjadi konotasi yang negative apabila dilakukan secara berlebihan dan tidak tepat. Dalam channel youtube Analisa Widyaningrum Ada sebuah penelitian (Oh, dkk. 2019) di newyork terkait dengan penilaian seseorang, dalam penelitian ini partisipan diminta untuk melihat figure foto wajah seseorang. Orang 1 : menggunakan pakaian mahal dan branded, orang 2 : menggunakan pakaian murah, selanjutnya partisipan diminta menilai mana yang lebih kompeten dengan diberi disclaimer sebelumnya untuk tidak melihat apa yang dikenakan. Hasilnya, seseorang dengan pakaian mahal dinilai lebih kompeten. Jadi, secara tidak langsung flexing ini bisa dikatakan subyektif dan kontekstual. Sudut pandang yang lain bahwa, apabila flexing ini dilakukan dengan alasan untuk memotivasi orang lain atau mengedukasi oranglain dan bukan pamer, lantas bagaimanakah? Menurut (Levine, 2016) dalam “An Introduction to Cyberpsychology” terkait dengan “Manipulating Trustworthiness” ada istilah believe seseorang yang dibentuk dari beberapa aspek, yaitu : Testimoni, hal ini sengaja dilakukan agar orang lain percaya, kemudian yang kedua yaitu education, memberi edukasi kepada oranglain, namun harus diperhatikan bahwa mengedukasi itu butuh sebuah scientific, agar seolah-olah seseorang tersebut tidak menjerat orang lain untuk masuk dan melakukan cara yang sebenarnya diluar batas kemampuan orang lain yang diberi edukasi. Dengan kata lain kaya adalah proses yang harus dimaknai dari perjalanan masing-masing. Dalam channel youtube psikolog Analisa Widyaningrum dikutip pernyataan Morgan Housel dalam “Psychology of Money” beliau mengatakan bahwa “kekayaan itu adalah sesuatu yang tidak terlihat oleh orang lain”, jadi secara tidak langsung kaya dan kekayaan adalah 2 hal yang berbeda. Orang yang cenderung kaya dan memiliki kekayaan yang sesungguhnya tidak lagi membutuhkan flexing namun mereka cenderung mencari kekayaan yang bersifat longterm, memikirkan legasi apa yang ingin ditinggalkan, bagaimana menjadi bermanfaat bagi orang lain, mencari kenyamaan dan privasi. 

    Dalam teori Abraham Maslow, mereka tidak lagi membutuhkan pengakuan namun mereka sudah mencapai tahap aktualisasi diri. Flexing juga erat kaitannya dengan empati, terlebih di masa pandemic seperti sekarang. Banyak orang kesulitan ekonomi dan kehilangan pekerjaannya. Menurut Goleman dalam bukunya “Emotional Intelligence”, empati adalah bagian dari kecerdasan emosional atau emotional quotient. Dalam kecerdasan emosional ada beberapa aspek yaitu : Self awareness, bagaimana seseorang menyadari kepekaan diri terhadap apa yang dilakukan dan dipikirkan. Terkait hubungannya dengan flexing, ada sebuah penelitian yang dilakukan di Yle University, bahwa memerkan kekayaan adalah kekuatan yang sangat korosif, maksudnya adalah Ketika seseorang semakin pamer, itu artinya seseorang tersebut akan semakin mengeksploitasi orang-orang miskin. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa semakin banyak orang yang mendukung dan melakukan kegiatan untuk pamer, hal tersebut sebenarnya berkebalikan dengan kesejahteraan diri mereka. Mereka cenderung kurang empati, kurang prososial, lebih kom[etitif, dan kurang mendukung orang lain yang membutuhkan. Dari riset ini juga bisa dikatakan bahwa kecerdasan emosional terkait self awareness pada seseorang yang flexing masih tergolong rendah. Kemudian yang kedua ada Self Regulation, menurut pandangan psikologi pamer atau flexing adalah perilaku yang implulsif, flexing menjadi seperti sebuah impuls jika sering dilakukan dan menjadi sebuah kebiasaan, hal ini terkait dengan self control. Ketiga yaitu Social Skill, seseorang dengan kecerdasan sosial yang tinggi, maka memiliki kecenderungan bisa diterima di lingkungan sosial apapun. Artinya, jika seseorang memiliki “sesuatu” yang bisa memberi dampak, maka tidak perlu berupaya keras untuk menunjukkan apa yang dimiliki secara materi, tidak perlu lagi flexing untuk menunjukkan ke-aku-annya, posisinya, dan status sosialnya yang sebenarnya itu semua begitu melelahkan. 

    Pada dasarnya menurut (Goenka&Thomas, 2020) orang yang gemar melakukan flexing memiliki sebuah keyakinan “core moral believe” yang keliru, dimana dalam hidup mereka flexing adalah penguat peringkat sosial, seseorang sebenarnya tahu bahwa perbuatan tersebut kurang pantas namun mereka ingin menutupi sesuatu yaitu INSECURITY dan tidak PERCAYA DIRI. Lalu, apabila tidak ada lagi yang dipamerkan, apa yang akan dilakukan? Seseorang akan cenderung mengalami frustasi, stress dan merasa gagal dalam penyesuaian dirinya. Begitu banyak harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, pada akhirnya ada keadaan mental yang terganggu pada seseorang yang gemar melakukan flexing. Padahal menurut pandangan Kesehatan Mental, ciri-ciri kepribadian yang sehat yaitu: hidup disaat ini, hidup atas dasar tujuan, persepsi objektif, memiliki tanggungjawab terhadap orang lain, dan hidup sebagai tantangan bukan ancaman. Sedangkan tanda dari kesejahteraan dan kebahagiaan adalah: hidup memiliki arti & arah, mencapai tujuan hidup, peduli, jarang merasa diperlakukan tidak adil dan dikecawakan oleh kehidupan, (Siswanto, 2007). Sebagai penutup, dalam jurnal Social Psychological & Personality Science (Garcia, et all, 2018), diungkapkan bahwa 66% orang cenderung memilih mobil mewah daripada mobil biasa. Tetapi Ketika diminta untuk memilih individu yang ingin dijadikan teman, kebanyakan orang lebih memilih untuk berteman dengan orang yang kendaraannya terlihat lebih biasa atau murah. 


Referensi

Ellis, E.G. 2019. The Psychological Impact of Seeing Youtubers Spend Millions. weird. Retrieved November, 2,2021, from https://www.wired.com/story/youtube-flexing-psychology/ 

Elo, S, et.all. 2014. Qualitatuve Content Analysis: A Focus on Trustworthiness. SAGE Open. DOI:10.1007/978-3-030-30199-6_5. sgo.sagepub.com 

Garcia,et.all. 2018. The Status Signals Paradox. University of Michigan, Ann Arbor, MI, USA : Journal of Social Psychological and Persobality Science. First Published August 3, 2018 Research Article https://doi.org/10.1177/1948550618783712 

Goenka, S., & Thomas, M. 2020. The malleable morality of conspicuous consumption. Journal of Personality and Social Psychology, 118(3), 562–583. https://doi.org/10.1037/pspp0000237 

Goleman, Daniel. 1995. Emotional Intelligence (Edisi Terjemahan). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.https://books.google.co.id/books id=fYLEGIKrtNYC&printsec=frontcover&#v=onepag e&q&f=false 

Kirwan, G, et.all. 2016. An Introduction to Cyberpsychology. London & Newyork : Routledge 

Taylor & Francis Group Siswanto. 2007. Kesehatan Mental Konsep, Cakupan dan Perkembangannya. Yogyakarta : ANDI 

https://www.liputan6.com/news/read/4928859/journal-fenomena-flexing-pamer-harta-demi-eksistensi 

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20220124143117-277-750501/melihat-perilaku-flexingalias-pamer-secara-psikologis 

https://tirto.id/arti-flexing-asal-usul-katanya-yang-ramai-di-media-sosial-gpgJ 

https://www.kompas.com/tren/read/2022/02/15/130000765/apa-itu-flexing-ramai-disebut-di-mediasosial-dan-apa-tujuannya-?page=all 

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-kisaran/baca-artikel/14817/Crazy-Rich-Flexing-danMelunturnya-Budaya-Ketimuran.html 

https://youtu.be/P8nqLYg8G1Q

https://youtu.be/UrJebm_gOF4


 

Komentar

Postingan Populer