Gending Vanita



Yang rekah di tangkai-tangkaiku adalah Tuhan dan caraNya mengeja satu per satu pinta dari mulut serta kantong mataku yang kering. Ku tanggalkan segala hingar bingar dan mulai merapal mantra doa-doa panjang- diberkatilah usia dengan tabah dan berani. Ku sapu satu-satu bulatan air yang jatuh dari kerling matanya, Syaura & Greesa, matanya seperti telaga yang amat tenang dan binar berkali-kali. O anak-anak manis yang lahir dari erangan bertubi di kota dingin yang kian pasi digilas usia, peristiwa itu kutimang bersamaan dengan suara Sapardi yang berpuisi tentang hujan bulan juni. 

Aku juga akan menulis puisi untuk masa lalu yang sedang cemburu, sebab dikota ini nama dan angka-angka berkasih sangat mesra, mencumbu segala, lalu malam adalah waktu yang dilacuri ambisi membiak nama-nama. Di kota yang kian pasi digilas usia, puluhan malam tiba dan dua nama lahir dari rahimku, Syaura & Greesa dewasalah dalam makna yang kalian telan sendiri, tidak ada hal apapun yang siap dilacuri kesuciannya maka cumbulah sebagaimana mestinya. Sebagaimana ibu yang melahirkan bayi-bayi dengan nama berserta doa- doa tumbuhlah untuk tidak saling menyakiti. Sebagaimana pula Tuhan mengajari umatnya untuk saling berkasih meski kelamin dan isi kepala masing-masing lahir dengan nama berbeda. Lalu lebih dari itu, bahwa untuk menjadi besar, lahirlah kembali dengan nama dan angka-angka. 

Komentar

Postingan Populer