Film Yuni by Kamila Andini


Yuni, looking for ….
A film by Kamila Andini
2021


     Setelah perjalanan panjangnya dari tahun 2016 akhirnya Yuni lahir dengan penuh emosional yang terasa sulit dijelaskan dengan kata-kata.Kamila Andini (Sutradara&Penulis) berhasil merefleksikan seluruh pengalaman batin perempuan, khususnya di negara dengan tingkat partiarki yang tinggi. Film ini membawa issue-issue penting, berat, dan menyesakkan dada setiap penontonnya, namun apabila perempuan yang menonton mungkin menjadi hal yang biasa dialaminya setiap hari. 
     Film yang dibalut hamper seluruhnya dengan konsep warna ungu ini cukup membuat Hasrat dalam diri perempuan berkobar, disaat ungu dianggap sebagai warna janda oleh Sebagian masyarakat luas ini justru sebaliknya. Ungu yang menjadi warna obsesi Yuni “tokoh utama” adalah warna yang menyimbolkan gerakan perempuan, warna ungu dipakai untuk peringatan International Women’s Day dan symbol aksi solidaritas untuk mendorong disahkannya RUU PKS. Warna ungu yang disajikan oleh Kamila dalam film Yuni ini menambah kompleksitas symbol dimana penggabungan warna biru yang tenang dengan “fierce” dari merah seolah menggambarkan tokoh Yuni yang independent, tenang, mewakili harga diri, ambisi, lekat dengan penokohan protagonist yang penuh kebingungan dalam pencariannya.
  Issue yang disajikan dalam film Yuni cukup membuat air mata menetes sekali, duakali kemudian berkali-kali bahkan aftertastenya pun masih terasa. Yes, Sesak!!
Pernikahan Dini
Cita², Masa Depan
Seks Edukasi
Tes Keperawanan
Kedekatan orangtua & anak (kepercayaan orangtua terhadap remaja)
KDRT
Budaya Patriarki (Mitos-mitos)
Gender Identity
    Dan maybe ada issue lain yang luput saya sebutkan disini. Kebingungan Yuni dalam pencariannya menjadi kekuatan film kamila kali ini, Yuni pintar hampir diseluruh pelajaran tapi kenapa untuk mendapat beasiswa dia juga harus menaklukkan kelemahannya dimata pelajaran Bahasa Indonesia. Yuni polos soal seks daripada temannya tapi justru ada Hasrat seksual dan aktivitas seksual yang diam-diam dijelajahi. 

Bagaimana bisa sekolah begitu saja menyetujui tes keperawanan tanpa pernah memberikan seks edukasi?

Bagaimana bisa sekolah menetapkan perasturan perihal aurat tanpa pernah membuka ruang diskusi? Lalu ..

Bagaimana bisa orangtua dan lingkungan secara langsung ataupun tidak langsung memaksa anak remajanya untuk menikah tanpa memberi tau resiko Kesehatan, kehamilan, KDRT dan apa itu sumur, dapur, kasur ?

     It is not fair bagi remaja, hal inilah yang menjadi sekat antara orangtua-sekolah (Pendidikan)-agama-budaya dengan remaja. 
 Dampak ini tidak hanya dirasakan Yuni, tapi juga berbagai karakter perempuan disekitarnya, maybe aku, kamu, dia, dan mereka. Dalam persimpangan dan dilemanya Yuni dihadapkan pada realitas yang tidak berpihak pada perempuan seperti dirinya. Yuni melihat teman-temannya rentan putus sekolah, dipaksa menikah, meninggal, hingga korban kekerasan dalam rumah tangga. Seolah-olah Yuni hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi seperti mereka. 
     Menariknya pada film ini dampak patriarkis itu juga dirasakan oleh tokoh guru “Pak Damar” . apa yang terjadi dengan pak damar adalah wujudnya, ia harus berperan menjadi orang lain dan menyembunyikan sisi feminimnya demi membahagiakan ibunya dan diterima lingkungan, itu jelas terlihat bagaimana laki-laki dikonstruksikan untuk menjadi pemimpin yang gagah, berani, tidak boleh menangis, mengambil tanggungjawab lebih dalam sebuah rumah tangga melalui pernikahan.
     Pada dasarnya menikah bukanlah bentuk pengorbanan diri bagi siapapun dan untuk siapapun, menikah adalah keputusan sadar, logika berfikir yang sehat yang diambil dengan penuh pertimbangan matang, dengan cinta diantara keduanya, dengan rasa “saling” yang mendalam. Bukan semata-mata untuk lari dari sebuah masalah, membahagiakan orangtua, memenuhi kewajiban agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, bukan bentuk membalas budi, atau bahkan mengabdikan diri untuk seseorang. Menikah adalah sebuah keputusan besar, momentum penjemputan masalah, komitmen yang dibangun oleh dua manusia atas dasar kepercayaan untuk mencapai sebuah tujuan dan kebahagiaan yang diciptakan berdua.
     Pada akhirnya, seperti lembaran puisi-puisi Sapardi yang menghiasi film ini bahwa semua orang memiliki “Takdir” yang harus dijalani. Menjadi perempuan adalah takdir, anugerah, karunia, sekaligus hadiah yang kami terima dan kami jalani. Sebuah perjalanan yang mengisi jiwa, dengan resiko kegagalan yang cukup tinggi, lebih sering merasakan kekecewaan, sensitive dengan perasaan bersalah, kehilangan arah, dipenuhi dengan segala batasan, norma dan aturan namun tetap harus menebar cinta, membahagiakan orangtua, suami, anak, orang-orang disekelilingnya, menjaga kehormatan dan penuh dengan pengabdian. Perempuan itu multiperan, hadir dengan banyak tuntutan dari tradisi, norma, stereotype sampai hukum positif. Sebagai perempuan sekedar membuat pilihan saja sudah menantang, kami sering dilanda perasaan bersalah.
     Let say, kembali pada prinsip, keyakinan kita sebagai perempuan, tatanan ideal kita sendiri seperti apa. But remember, boleh dan bisa adalah 2 hal yang berbeda, mari perluas :
1. Apa yang pria boleh dan perempuan tidak boleh ?
2. Apa yang keduanya sudah boleh namun mayoritas perempuan tidak bisa?
3. Apakah ketidakbisaannya itu karena hukum fisika atau kondisi biologis yang tidak memungkinkan?
4. Atau karena sistem, regulasi, struktur sosial yang dikondisikan sedemikian rupa agar perempuan tidak bisa?
5. Lalu, apakah perempuan dilibatkan dalam penyusunan aturan dan tradisi yang ada?

Mahatma Gandhi pernah berkata :
Keadilan social bagi kaum perempuan berada dalam dirinya sendiri. Sejatinya perempuan mempunyai sihirnya sejak lahir, yaitu kekuatan batin dalam diam, balutan kelembutan kasih perilakunya, dan keahlian mengendalikan diri. Kewajiban sebagai perempuan – melahirkan- mengabdi- mendukung terhadap perempuan lain, bangsa, dan kemanusiaan secara luas.”

Dan satu lagi sangat tidak apa-apa kalua remaja tidak selalu tau apa yang akan diinginkannya ke depan. Sangat tidak apa-apa perempuan memiliki cita-cita yang tinggi, mengejar impian yang ada diangan-angan, semua orang berhak untuk mengeksplorasi hidupnya, memilih hal-hal yang disukai dan menjalani jalan ninjanya sendiri. Sangat tidak apa-apa.

Thanks Yuni.






   With Love,
        Fitrianakhkh





Film Yuni by Kamila Andini
https://fitrianakhkh.blogspot.com/2020/10/life-is-choice-and-women-can-choose.html
Beauvoir, Simone De. 1989. Second Sex : Fakta dan Mitos. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Beauvoir, Simone De. 1969. Perempuan yang dihancurkan. Yogyakarta : Narasi
Gandhi, Mahatma. 2002. Woman and Social Injustice. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Novel-novel Paulo Coelho : Brida, Selingkuh, Ditepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis
Narasi.tv
Geolive
Geotimes
Rasan Rasa Diri dan Teman



Komentar

Postingan Populer