“Life is Choice, and Women Can Choose Both of Them”

DIARY PEREMPUAN

“Life is Choice, and Women Can Choose Both of Them”

 

            Semua orang memiliki “Takdir” yang harus dijalani. Menjadi perempuan adalah takdir, anugerah, karunia, sekaligus hadiah yang kami terima dan kami jalani. Sebuah perjalanan yang mengisi jiwa, dengan resiko kegagalan yang cukup tinggi, lebih sering merasakan kekecewaan, sensitive dengan perasaan bersalah, kehilangan arah, dipenuhi dengan segala batasan, norma dan aturan namun tetap harus menebar cinta, membahagiakan orangtua, suami, anak, orang-orang disekelilingnya, menjaga kehormatan dan penuh dengan pengabdian. Sering kami berbisik pelan dalam hati kecil “Apa yang kucari dalam kehidupan ini?”, padahal isyarat melalui garis tangannya menunjukkan bahwa perjalannya hanya untuk menemukan dirinya yang diberkati dengan cahaya.

Oleh sebab itu, perjalanan kami selalu penuh warna, banyak cerita, dan dihadapkan pada persimpangan-persimpangan pilihan. Kerap kali kami harus memilih :

  •   Lanjut sekolah atau menikah
  •  Bekerja atau jadi ibu rumah tangga
  • Menjadi diri sendiri dengan standar kecantikan yang kami terapkan ataukah mengikuti standar cantik khalayak ramai yang pada akhirnya bias

Lalu terbesit pertanyaan : Kenapa kami harus memilih?

            Kami tidak harus memilih beberapa hal. Perihal menikah bukankah kami masih bisa melanjutkan pendidikan, bukankah dengan bekerja kami juga tetap seutuhnya menjadi “Ibu” dan “Ibu rumah tangga”?. Lalu…. Berbeda dengan standar cantik, sudah seharusnya kami memilih standar yang paling ideal untuk diri kita sendiri.

“kamu cantik, kalau putih deh”,  “ kamu sexy kalau perutmu nggak kaya gentong gitu”, “serius kamu tuh sexy, tapi sayang pahamu tu lho kecilin dikit”,  “rambutmu lurus papak gitu sih, rambutmu kriting, kriwil kaya mie instan lurusin napa biar cantik”,  “kamu eksotis tapi kalau terlalu item kaya areng tungku ngga sih”,  “coba make up lebih natural, biar enggak pucet kaya mayat idup, atau menor banget mau ke acara dangdut?”,  

“pake softlense kaya temenku itu biar matamu bagus”,  “baju kamu ngga cocok sama kulitmu atau harusnya kamu pakai dress aja biar lekuk tubuhmu nggak keliatan kaya gitu sih, malu-maluin aja” dan umpatan yang lain.. 

Insecure (of course), dilema, penghakiman lekat setiap hari dengan kami. Sudah saatnya aku, kamu, kalian, mereka memperluas tentang standar kecantikan. 

Perlu ditegaskan bahwa :

“Perempuan bukan objek pemandangan, kecantikan bukan untuk diperlombakan dan dipertontonkan”

Cantik itu bukan hanya menjadi kata benda, tapi sudah seharusnya menjadi kata kerja. Sudah tidak lagi, bahwa pengakuan dinilai dari penampilannya dan bukan dari ketrampilannya.

Cantik karna tindakannya, cantik karna pengetahuannya, kecerdasannya, karyanya, aktivitasnya, perilakunya dan energi positifnya untuk menggerakkan oranglain khususnya perempuan lain untuk tidak toxic terhadap sesamanya. Kami anggun dengan mimpi dan ambisi yang diimbangi dengan hati dan empati.

       Perempuan itu multiperan, hadir dengan banyak tuntutan dari tradisi, norma, stereotype sampai hukum positif. Sebagai perempuan sekedar membuat pilihan saja sudah menantang, kami sering dilanda perasaan bersalah. Contoh kecilnya saja :

“yang, mau makan dimana?”

“terserah kamu aja deh”

Bukan kami malas berpikir, kami khawatir makanan yang dipilih tidak sesuai selera, terlalu mahal, tidak tau diri, tempatnya jauh. Sering kami ingin menjawab:

“aku pengen makan A, nanti kalau kamu ngga suka disana ada menu lain” atau “nanti kalau habisnya banyak, kita patungan aja ya” atau “kan aku yang pilih makanannya nih, nanti aku yang traktir yah”

Namun, beberapa dari kami tidak berdaya hanya untuk berkata keinginannya dengan sederhana.

Lalu contoh yang lain :

  • Perempuan justru menganggap rendah dirinya
  •  Ambisi yang bertentangan dengan tradisi
  • Perempuan yang vokal dan frontal sering kali dihindari dengan stigma “ah, cewek begini mah crewet, ribet”, “ambisius banget deh jadi cewek”, “pasti dia ngatur banget, ikut campur” dan lainnya.


Let say…

Kembali pada prinsip, keyakinan kita sebagai perempuan, tatanan ideal kita sendiri seperti apa. But remember, boleh dan bisa adalah 2 hal yang berbeda, mari perluas :

1.    Apa yang pria boleh dan perempuan tidak boleh ?

2.    Apa yang keduanya sudah boleh namun mayoritas perempuan tidak bisa?

3.    Apakah ketidakbisaannya itu karena hukum fisika atau kondisi biologis yang tidak memungkinkan?

4.    Atau karena sistem, regulasi, struktur sosial yang dikondisikan sedemikian rupa agar perempuan tidak bisa?

5.    Lalu, apakah perempuan dilibatkan dalam penyusunan aturan dan tradisi yang ada?

Perlu disadari bahwa akhir-akhir ini lapangan pekerjaan lebih banyak memberi persyaratan : Jenis kelamin laki-laki. Padahal kami sudah biasa bekerja lebih keras dibanding pria, bahkan pintu yang terlihat mudah untuk pria terkadang mesti harus didorong keras oleh perempuan. Ini bukan semata pembelaan, namun inilah alarm pengingat bahwa perempuan seharusnya terus menerus memperkaya diri dengan pengalaman dan pengetahuan. Bukan juga untuk menjadi lebih unggul dari pria, cukup sama dan setara. Berperan aktif dalam setiap kegiatan pria, bukan untuk ikut campur dan mengatur melainkan menjadi social support dan lensa penglihatan lain pada hal-hal yang sering terlewatkan padahal penting oleh pria.

Hey ….

Tidak ada yang lebih tau “perempuan” selain diri sendiri. Perbaiki diri > harga diri tidak ditentukan oleh orang lain. Mahatma Gandhi pernah berkata :

“Keadilan social bagi kaum perempuan berada dalam dirinya sendiri. Sejatinya perempuan mempunyai sihirnya sejak lahir, yaitu kekuatan batin dalam diam, balutan kelembutan kasih perilakunya, dan keahlian mengendalikan diri. Kewajiban sebagai perempuan – melahirkan- mengabdi- mendukung terhadap perempuan lain, bangsa, dan kemanusiaan secara luas.” 

Seperti halnya Sinta, Damayanti, Drupadi, RA. Kartini, nenek, dan Ibu. Mari ciptakan lingkaran untuk berbagi, bersama ‘Diary Perempuan’ by : Antara Rasa yang tidak lama lagi akan menemani, mendengarkan, dan mengerti setiap Perjalanan Menemukan Diri.

⸻⬥⬥⸻

 

Rasan Rasa 

 

Beauvoir, Simone De. 1989. Second Sex : Fakta dan Mitos. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Beauvoir, Simone De. 1969. Perempuan yang dihancurkan. Yogyakarta : Narasi

Gandhi, Mahatma. 2002. Woman and Social Injustice. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Novel-novel Paulo Coelho : Brida, Selingkuh, Ditepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis

Narasi.tv

Geolive

Geotimes

Rasan Rasa Diri dan Teman

 


 Regards,

 

Fitriana Kh.Kh

 (Antara Rasa Studio)

 

 

 


Komentar

  1. Luarbiasa...memberikan inspirasi dan wawasan lebih bagi perempuan..good job...good luck

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thankss a lot, boleh sharing2 apapun kakak🥰🙏🙏

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Menjadi perempuan bukanlah siapa, apa dan mengapa, tapi perempuan dewasa yang bijak mampu tuk berpikir dan berbuat bagaimana dalam menjalani hidup ini... Selalu semangat dan menjadi kebanggaan keluarga ya non...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu.
      Menjadi perempuan adalah anugerah namun disini harus banyak pembuktian dari setiap keinginannya. Semoga, Tuhan selalu meridhoi jalanku. Thanks a lot🥰🥰

      Hapus
  4. Dieng dieng dieng garung garung yo pak telu maneh mangkat yo

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer