SKRIPSWEET
Skripsi adalah benteng akhir dalam proses penyelesaian petualangan pendidikan strata 1, saya mahasiswa BK semester akhir (8 menuju 9 sih) di University of PGRI Semarang. Skripsi saya mengangkat judul tentang ke-tabu.an seks dalam masyarakat kita yang akhirnya justru menjadi fenomena yang diperkirakan sepanjang masa akan terus ada yaitu tentang seks pranikah. Mungkin sebagian orang merasa geli mendengar judul itu tapi untuk sebagian yang lain merasa sudah biasa secara pribadi ataupun pembahasan kelompok dan bahkan banyak juga yang sudah melakukannya. Proses mengerjakan skripsi bersama 2 pembimbing (konselor dan psikolog) yang sama-sama pakar seks dan bullying, berbeda desain penelitian (kuanti dan kuali), yang sangat disiplin, dan selalu berusaha untuk exellence menjadi sesuatu yang sangat menarik sekaligus menantang. Usaha untuk meyakinkan setiap bab per bab nya dalam kesempatan bimbingan menjadi sangat menegangkan dan menantang adrenalin saya, mungkin teman-teman juga ya. Namun, 1 hal yang saya percaya bawasannya, ketakutan itu hanya ada dipikiran kita ternyata bukan di tindakan-tindakan yang kita lakukan.
Proses untuk memenangkan kepercayaannya bahwa skripsi dengan judul ini mampu saya selesaikan yaitu dengan membantu penelitian-penelitian dosen pembimbing saya, dengan begitu saya tidak harus menunggu waktu bimbingan dan antri untuk sekedar berdiskusi dan meminjam bukunya hahahahha. Hingga pada akhirnya sampailah pada tahap penelitian yang membuat saya shock dengan analisisnya yang sangat jelimet (karna kuali) tapi why-power dan effort yang lebih dari 100% akan mampu membantu saya menyelesaikan tahap-tahap terakhir.
Siang ini, setelah bimbingan dengan 3 psikolog sekaligus dan diberi PR membaca buku setebal bantal di kos membuat saya menyadari sesuatu. Proses membuat skripsi ini semakin menyadarkan saya bahwa saya suka belajar. Proses yang tadinya tidak tau menjadi mengerti itu, seru banget. Lalu dari yang hanya memahami, otak membantu memvisualisasikan bentuk nyata dari sebuah konsep/fenomena yang baru kita mengerti itu. Dan proses akhirnya nanti, menurut saya adalah kita dapat melihat dunia berbeda dari pengetahuan baru kita. Dan lagi, siklus semacam ini sangat menggairahkan bagi saya, ini membuat saya terpenuhi dan tidak kosong.
Mungkin ada 1 hal yang ingin saya katakan, menjadi lebih menarik apabila persepsi mengenai skripsi yang kita buat bukan hanya sebagai syarat kelulusan jenjang S1, bukan hanya SKRIPSI aja, karna jika begitu kita hanya akan mendapatkan selembar ijazah, yang mungkin ijazah itu hanya formalitas dan di era ini nilainya hanya sedikit jika dilibatkan untuk modal kerja bagi para fresh graduate, tentunya melihat almamater universitasnya. Namun, jika skripsi kita buat dengan topik-topik yang paling dekat dengan kehidupan kita atau mengenai sesuatu yang sangat ingin kita tau (tentunya yang nyambung dengan jurusannya) menjadi bermanfaat bagi pengetahuan kita, bisa melihat dunia yang saya critakan diatas tadi.
Pandangan tentang skripsi yang susah, dosen pembimbing yang killer, susah ditemui dan alasan-alasan lain ternyata terpatahkan saat saya menikmati prosesnya. Semua bisa disiasati, asal kita memberikan lebih dari 100% effort kita terhadap apa yang kita pilih untuk kita lakukan. Ayo semangat garap skripsi, garap skripsi harus semangat (kata2 di video skripsi). Proses selanjutnya sedang menunggu untuk DINIKMATI dan DISIASATI.
-SEKIAN-

😘
BalasHapus👌
Hapus